SEMINAR SEHARI KOMISI TEOLOGI HKBP

Dua topik hangat menjadi topik menarik pada Seminar Sehari yang diselenggarakan oleh Komisi Teologi HKBP Periode 2012 – 2016 yang bertempat di Grand Palm Hotel Pematangsiantar (Jumat. 26/7). Dua Topik tersebut adalah “Tohonan Pendeta” yang diulas oleh Pdt. Mori A.P. Sihombing, MTh (Sekretaris Jenderal HKBP) dan Pdt. Leo Dunan Sibarani, MTh (Dosen PL STT-HKBP) serta topik “Roh dan Begu ganjang” diulas oleh Pdt. Dr. Darwin  Lumbantobing (Ketua STT-HKBP) dan Pdt. Dr. Jaharianson Saragih (Ephorus GKPS).

Ephorus HKBP Pdt. W.T.P. Simarmata, MA dalam kata-kata pembukaan Seminar serta Arahan Teologi menyampaikan bahwa Seminar bertema Teologi saat ini sangatlah penting sehingga kantor pusat akan mendukung sepenuhnya, diharapkan juga komisi ini segera menerbitkan jurnal teologi. Menurut Ephorus banyak persoalan teologi yang kita hadapi kini : hubungan gereja dan negara, banyaknya persoalan karena isu-isu begu ganjang hingga sampai menyulut pertikaian dan saling melukai. Maka saatnya komisi Teoligi HKBP bekerja keras untuk menggali dan mendalami serta menjawabnya.

Dalam pemaparannya Pdt. Dr. Jaharianson Saragih yang menyampaikan topik “Roh Dan Begu Ganjang” dengan lugas menjelaskan bahwa pada umumnya di setiap agama suku ada kepercayaan bahwa roh orang yang sudah mati masih berada di dunia dan masih mempunyai hubungan dengan keturunannya yang masih hidup dalam berbagai manifestasi dan akan memberi berkat bila dihormati dan mengakibatkan malapetaka bila diabaikan. Menurut Dr. Jaharianson alasan orang memelihara Begu ganjang adalah : Perlindungan bagi keluarga, Ekonomi (kekayaan, melindungi usaha) dan Dendam.

Pdt. Dr. Darwin yang membahas topik “Roh Manusia” (Kajian Biblis-Teologis tentang Roh) menerangkan tentang Roh Manusia menurut pemahaman Biblis Teologis sangat jauh berbeda dengan pemahaman dari sudut pandang antropologi-filosofis, tetapi mempunyai kedekatan dengan pandangan budaya Batak. Kesaksian Alkitab tentang roh orang yang meninggal adalah hidup, sekalipun ada yang sudah bersama-sama dengan Allah dan ada yang berada dalam penghukuman dan dalam penempatan pada suatu tempat tertentu. Tempat roh yang sudah meninggal itu sangat tergantung kepada perilaku manusia pada masa kehidupannya. Menurut Dr. Darwin adalah penting untuk waspada dalam menyikapi keberadaan roh. Roh itu harus diuji apakah ia berasal dari Allah atau roh jahat.

Sementara Topik yang membahas tentang “Tohonan” disampaikan oleh Pdt. Leo Dunan Sibarani, MTh yang menguraikan bahwa istilah Tohonan bersumber pada dua akar : a. Toho (tepat) dan an (itu), yang dimaksud bahwa Lebih tepat si Anu itu melakukannya atau membicarakannya dari pada si Anu ini. Dalam hal ini, tohonan dimaksudkan sebagai suatu pekerjaan khusus yang sangat penting yang tidak dapat dilaksanakan/dilakukan oleh orang lain, b. Orang Batak lebih cenderung memahami “tohonan” itu dari segi mistik karena haruslah orang-orang tertentu dan yang berwibawa yang dapat melakukan/melaksanakannya, yang tidak dapat diwakilkan kepada orang lain serta tidak dapat dicabut. Tidak sembarang orang dapat melakukan serta membicarakannya selain daripada partohonan itu sendiri.

Memperkaya topik yang disampaikan oleh Pdt. Leo Dunan, Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. Mori A.P. Sihombing, MTh menyampaikan topik “Tohonan Hapanditaon”. Pdt. Mori menerangkan bahwa istilah Partohonan dan Tohonan merupakan orang atau oknum yang mengemban “Tohonan”.  Dalam Agenda/AP HKBP, Tohonan itu terdiri atas 6 jenis : Pendeta, Guru, Bibelvrouw, Sintua, Diakones dan Evangelis. Ditahbiskan oleh Ephorus, kecuali Sintua adalah oleh Pendeta Ressort. Partohonan bertanggungjawab kepada pihak yang memberi Tohonan, yakni Tuhan Allah. Lebih jelas Sekretaris Jenderal menyampaikan bahwa Tohonan itu adalah tugas panggilan untuk melayani, juga merupakan pemimpin dan teladan yang sangat dihormati.

Saat merespon diskusi yang tengah berjalan, Ompui Ephorus menambahkan bahwa seminar-seminar seperti ini sangatlah penting untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan Jemaat. Menurut Ephorus masih banyak bermunculan thema-thema penting yang belum kita sentuh, antara lain street children, human trafficking, jadi sebetulnya masih banyak issue-issue yang semestinya itu merupakan tugas gereja, lalu bagaimana menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia. Kiranya komisi akan terus bekerja dengan lebih keras lagi, ucapnya.

Seminar yang berlangsung sejak pukul 08.30 wib yang dibuka dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Ir. Desima Sihotang, M.Div sebagai Liturgis dan Pdt. Hercules Sihotang, STh berakhir pukul 17.00 wib yang ditutup oleh Ephorus melalui ibadah penutupan yang dipimpin oleh Pdt. Rut Betty Panjaitan, STh. Seminar sehari ini dihadiri oleh 96 peserta seminar, dari 80 orang target peserta. Para peserta yang hadir antara lain para dosen-dosen STT-HKBP, Pemerhati Budaya, para Pendeta dan jemaat. Usai Seminar, panitia memberikan Sertifikat kepada seluruh peserta.

Susunan Keanggotaan Komisi Teologi HKBP 2012 – 2016 adalah Pdt. Petrus NB. Pardede, MTh (Ketua), Pdt. Benny Sinaga, MTh (Sekretaris), Pdt. Ir. Thomson Sinaga, STh, MM, Pdt. Leo Dunan Sibarani, MTh, Pdt. CWZ Pakpahan, MTh, Pdt. Banner Siburian, MTh, Pdt. Desy Rita Hutasoit, STh, Pdt. Hercules Sihotang, STh, Pdt. Rut B. Panjaitan, STh, Pdt. Agus V. Sidauruk, MTh, Pdt. Ir. Desima Sihotang, M.Div, Dr. Sabam Malau, Dr. Tunggul Simanjuntak, Sp.Og, Prof. Dr. Jan Piter Sinaga, M.Kes dan CPdt. Renny Juwita Simanjuntak, STh.

Sumber : http://hkbp.or.id/seminar-sehari-komisi-teologi-hkbp/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *