Renungan Tema Rapat Pendeta HKBP 2013

Oleh :

Pdt.Luhut P. Hutajulu

Rapat Pendeta HKBP 2013 mengambil thema : HKBP menjadi berkat bagi dunia (Lih. Kej. 12 : 2) serta Sub Thema : Mengembangkan pelayanan dengan pilar pembaharuan, perdamaian dan pemberdayaan di tengah-tengah masyarakat majemuk.

Tema ini menimbulkan banyak pertanyaan yang harus dijawab, di antaranya,’Apa peran dan fungsi ‘pendeta’ di dalam gereja?Adakah perkembangan pelayanan ‘pendeta’ dengan mengingat pilar pembaharuan, perdamaian dan pemberdayaan? Perkembangan pelayanan apakah yang dibutuhkan masyarakat majemuk? Dan pertanyaan yang paling menarik sekarang, apakah ‘berkat’ menurut jemat kita sekarang ini? Dll.

Ada dua sandiwara yang mau diceritakan di bawah ini, untuk melihat bagaiamana peran dan fungsi ‘pendeta’.

Pertama.Sebuah sandiwara, film atau sinetron bermain dua jam. Tetapi berapa lama pemain  menyiapkan dan melatih diri untuk pementasan itu ? Mungkin dua bulan. Itulah beratnya menjadi aktor yang baik. Untuk bermain dua jam diperlukan latihan dua bulan. Latihan seberat itu diperlukan sebab memainkan sebuah peran bukanlah pekerjaan yang mudah. Kalau ia berperan menjadi raja, aktor itu harus melaih diri untuk bisa berpikir, berbicara, berlaku, duduk  dan berjalan seperti seorang raja. Sebaliknya, kalau ia berperan sebagai pelayan, maka ia harus bisa tampil dengan sikap, cara berpikir dan cara berbicara seorang pelayan. Dalam hidup sehari-hari kita juga mempunyai peran, bahkan banyak peran sekaligus: sebagai suami atau istri,orangtua, karyawan, warga kota dan sebagainya. Profesi kita, entah sebagai montir, manager, polisi, guru, pengusaha atau apa pun, adalah peran kita. Tiap hari kita naik panggung. Rumah, sekolah, kantor, pabrik, jalan raya adalah panggung  tempat kita melakonkan peran kita masing-masing. Bahkan peran yang kita jalani itu adalah istimewa. Kita bukan sekedar orangtua biasa, melainkan orangtua Kristen, atau dokter Kriten, majikan Kristen, sopir Kristen dan sebagainya. Peran kita menjadi lebih berat sebab kita membawa misi yang kristiani. Tetapi, bagaiaman kita sanggup mementaskan peran itu kalau kita tidak berlatih terlebih dahulu?

Di sini tampak fungsi gereja. Gereja adalah wadah di mana kita dibekali untuk melakonkan peran hidup sehari-hari. Di Efesus 4 tertulis:”Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus…”(ay.11,12). Perikop ini menunjukkan apa tugas ‘orang-orang kudus’(warga gereja) dan apa tugas para ‘rasul-rasul..’(pendeta). Seringkali perikop ini dipahami secara keliru. Orang mengira bahwa tugas pendeta adalah melakukan pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus. Itu bukan tugas pendeta. Itu adalah tugas warga gereja. Tugas pendeta adalah’memperlengkapi orang-orang kudus’bagi tugas warga gereja itu. Kata memperlengkapi dalam ayat ini adalah terjemahan dari katartismon yang berarti ‘menyempurnakan’,’memampukan’,membekali’,memperbaiki’, atau ‘memberdayakan’. Warga gereja perlu diberdayakan untuk sanggup menjalankan misi kritiani dalam hidup sehari-hari.Bagi gereja sumber daya manusia yang utama adalah para warga gereja. Warga gereja menduduki tempat yang strategis dalam masyarakat; sebagai orangtua dalam keluarga, sebagai buruh di pabrik, sebagai manajer di kantor, sebagai guru dis ekolah, sebagai perawat di rumah sakit. Kedudukan itu bukan hanay strategis melainkan juga desisif(bersifat menentukan), sebab dalam hidup dan profesi sehari-hari warga gereja sering dihadapkan pada 1001 macam persoalan atau dilemma etis dan serba salah:”Sebagai seorang Kristen, keputusan apa yang harus kupilih?” Kedudukan strategis warga gereja lebih mencolok lagi di bidang pekabaran Injil, sebab warga gerejalah yang sehari-hari berada di garis depan masyarakat. Tetapi kadang-kadang ada pendeta yang kurang menyadari hal ini. Pendeta tiap hari pergi  kian kemari untuk berkhotbah, padahal khotbah yang paling ampuh adalah melalui sikap hidup, pelayanan dan perbuatan nyata warga gereja dalam hidup sehari-hari (berkat bagi dunia). Pada abad pertama, berita Injil menyebar dengan pesat di seluruh kekaisaran Roma, bukan oleh pengkhotbah-pengkhotbah di stadion, melainkan oleh para pembantu rumah tangga, buruh dan saudagar keliling melalui profesi mereka. Pembagian kerja dalam tugas mementaskan Injil sebenarnya sudah digariskan dengan jelas dalam Efesus 4. Tiap warga gereja bertugas sebagai aktor. Pendeta menjadi sutradara. Naskah sandiwara  sudah tercetak hitam di atas putih sejak dua ribu tahun yang lalu. Tetapi dalam prakteknya misi pementasan ini tidak selalu berhasil. Kesalahan bisa terletak pada aktor. Kadang-kadang ada aktor yang tidak berpegang pada naskah yang sudah ada. Ia menyimpang dari naskah lalu berbicara dan berakting semau sendiri. Ada pula aktor yang kurang menjiwai peran yang harus dilakoninya. Mungkin ada juga aktor yang kurang bersungguh-sungguh; sebaliknya ada yang over –akting. Barangkali juga kesalahan terletak di sutradara. Ada sutradara yang lebih memberi perhatian pada urusan lain seperti dekorasi atau peralatan panggung, sehingga kurang memberi perhatian pada pelatihan dan pemberdayaan para aktor. Atau mungkin juga sutradara itu kurang cakap. Tetapi kendala yang paling gawat adalah bila sutradara itu kurang tahu diri. Seharusnya ia berada di belakang layar, tetapi ia malah naik panggung dan berpentas. Kacaulah pembagian kerja ini, apalagi kalau sutradara itu bermain one man’s show.(lih.Andar Ismail,Selamat melayani Tuhan,(Jkrt:BPKGM)

Kedua,’Kristus Disandera Pendeta”:“Busyet, musim dingin ini sungguh menyiksa. Terus –menerus dingin tanpa akhir. Badan menggigil,perut kelaparan. Kemiskinan ini juga sungguh menyiksa. Dari dulu miskin. Terus-menerus miskin tanpa akhir!” Demikian teriak si Kusta dengan pilu. Si Wanita Penghibur mendengarkan keluhan itu dengan iba. Si Pemulung menunduk prihatin. Di latar belakang panggung yang remang itu tampak menjulang tinggi lampu hotel-hotel megah di kota Seoul. Lalu si kusta berteriak geram,’Apa ini? Ah, patung Kristus! Lihat, patung Kristus bermahkota emas! Apa gunanya patung ini untuk kita?”Dengan sinis ia hendak membuang kembali patung yang baru ditemukannya di antara tumpukan sampah itu.Pada saat itu terdengarlah suara Kristus yang memelas, namun penuh wibawa,’Tolong Aku. Cabutlah mahkota emas ini yang dipasang oleh gereja sejak mulai melembaga 2000 tahun lalu. Mahkota-Ku yang betul bukan terbuat dari logam mulia, melainkan dari duri hina. Ah, senangnya hati-Ku bertemu kamu. Aku datang ke dunia untuk kamu. Aku jadi hidup kalau Aku sehati dengan kamu pada kedalaman penderitaanmu. Namun, sudah lama Aku disandera oleh pendeta. Bebaskan Aku supaya Aku bisa berfungsi sebagai Juru Selamat bagi orang-orang yang menderita seperti kamu!” Si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung terheran-heran. Mereka tidak percaya pada telinga dan mata mereka sendiri. Mereka disapa Kristus. Mereka diminta tolong oleh Kristus. Mimpi ataukah betul-betul terjadi? Belum lagi ketiga orang itu sempat mencabut mahkota emas dari kepala Kristus, tiba-tiba datanglah beberapa orang dengan sikap berang dari kanan dan kiri panggung. Mereka berteriak,’Ini dia pencuri patung Kristus!” Siapakah mereka? Sebentar kita akan lihat lanjutannya. Sekarang baiklah kita pahami konteks sandiwara ini. Adegan babak akhir ini dipentaskan di Kampus Sekolah Teologi Presbiterian di Seoul. Hampir tiap bulan ada pementasan kelompok teater kampus. Ragamnya variasi, dari absurd, satire, realis, atau drama lainnya. Jenisnya klasik, semi klasik, atau kontemporer. Malam itu gedung kapel yang memuat 800 kursi penuh sesak. Maklumlah, drama yang dipentaskan adalah gubahan dari buku karangan Kim Chi Ha berjudul The Gold Crowned Jesus and Other Writings. Kim Chi Ha bersama Kim Jong Bok adalah penulis terkemuka di Korea. Kedua teolog itu pernah dipenjara karena mengkritik pemerintah. Kedua teolog itu mengembangkan Teologi Minjung.Minjung  berarti rakyat jelata atau orang banyak atau orang biasa. Dalam hal ini, kaum awam atau warga gereja biasa. Umat Kristen di Korea berjumlah hamper 30 % dari penduduk dan banyak warga gereja adalah buruh pabrik. Dalam kuliahnya Kim Chi Ha berkata,’The minjung of the church are the oppressed, while the oppressers are the administration, the transnational firms and the clergy.”Artinya,”kaum awam adalah pihak tertindas, dan penindasnya adalah pemerintah, perusahaan raksasa, dan pendeta.” Apakah maksud dia dengan ucapannya yang tajam itu?Baiklah kita lihat siapa yang dimaksud dengan si Kusta, si Wanita Penghibur, dan Pemulung dalam drama ini. Si Kusta mewakili anggota-anggota gereja yang kehadirannya dirasa mengotorkan. Mereka adalah para penyandang cacat tubuh, cacat mental, penyandang AIDS, para gay dan lesbian, atau yang lainnya. Si Wanita Penghibur mewakili anggota-anggota gereja yang dianggap bukan orang baik-baik. Mereka dicap bermasalah. Mereka pernah bercerai atau keluarganya kurang beres. Mereka dianggap bermoral rendah. Mereka dinilai tidak berhak mendapat mendapat pemberkatan nikah di gereja dan tidak layak duduk pada meja Perjamuan Kudus. Si Pemulung mewakili anggota-anggota gereja yang berpenghasilan sedikit. Mereka pegawai rendah, buruh, atau pedagang kecil. Mereka tidak bisa memberi sumbangan ke gereja, malah sebaliknya mereka yang harus disumbang oleh gereja.Si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung adalah minjung atau umat awam. Mereka dipandang sebelah mata. Mereka terpinggirkan. Mereka minoritas. Memang mereka mendapat tempat duduk di gereja, namun mereka dianggap kurang penting. Mereka bukan fokus kepedulian gereja sebab gereja lebih peduli pada liturgy yang agung, ajaran yang alkitabiah, peraturan yang baku, upacara penahbisan pendeta yang meriah, atau KKR yang bermukjizat. Padahal Yesus justru peduli pada si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung. Yesus sendiri lahir dalam keluarga minjung, dan sepanjang hidup-Nya Ia menyamakan diri dengan para minjung. Ia bukan peduli pada para pemuka agama yang disebut ‘orang benar’, melainkan pada rakyat jelata yang disebut ‘orangberdosa’.Sabda-Nya,’Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”(Mat.9:13). Lalu Yesus”menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka”(Luk.15:2) Kim Chi Ha mengkritik pendeta yang memamerkan diri sebagai pembela si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung, padahal sebenarnya pendeta cuma memperalat mereka sebagai pencitraan gerakan kemanusiaan gereja. Oleh sebab itulah, ia menyebut pendeta menindas kaum awam jelata. Pendeta mamang memberi bantuan kemanusiaan, namun bantuan itu membuat kaum awam jelata jadi bergantung, bukan berdaya. Dalam kuliahnya yang lain Kim berkata,”The clergy defuse the minjung’s bitter resentment and indignation with sentimental charity. The people become emasculated by mercy.” Artinya,”Pendeta meninabobokan kejengkelan dan jeritan kaum awam jelata dengan bantuan kemanusiaan. Jadilah mereka terbius dengan sumbangan.”Dalam adegan sandiwara ini Kristus merasa bisa berfungsi sebagai Juruselamat bukan jika hidup dalam kemegahan gereja, melainkan jika hidup dalam kesahajaan kaum awam. Akan tetapi, Kristus tidak bisa berfungsi sebab Ia disandera oleh pendeta. Kristus cuma dijadikan pemanis mulut khotbah, aksesori jubah pendeta, ornament gedung gereja dan hiasan seremoni liturgi. Oleh sebab itu, Kristus minta tolong untuk dibebaskan. Simak soteriologi yang jungkir balik, Kristus Sang Pembebas ternyata minta dibebaskan. Minta kepada siapa? Kepada si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si Pemulung, yaitu orang-orang yang dicap ‘pemungut cukai, peminum, pezinah, penjudi, dan orang-orang berdosa”. Minta dibebaskan, dari belenggu apa? Dari belenggu yang dipasang oleh pendeta. Akan tetapi, belum lagi si Kusta, Si Wanita Penghibur, dan si Pemulung membebaskan Kristus, tiba-tiba datanglah tiga orang berbaju perlente, yaitu si Politikus, si Pengusaha, dan si Pendeta. Si Politilus langsung berhasil menyita patung Kristus itu. Ia segera bersorak kegirangan,”Haleluya, sekarang Kristus menjadi milik kami. Kamilah yang paling berhak menguasai Kristus sebab kami adalah politisi, pemerintah, dan aparat Negara yang berkuasa.”Akan tetapi, secepat kilat si Pengusaha merebut salib itu dan berteriak,”Puji Tuhan, sekarang Kristus menjadi milik kami. Kamilah yang paling memerlukan Kristus supaya kami sukses menipu dan memenangkan tender. Persepuluhan dari hasil kelicikan kami pasti dipersembahkan kepada Tuhan!” Pada saat itu dibelakang menyelinaplah si Pendeta dan merenggut salib Kristus bermahkota emas itu. Ia langsung sujud di tanah dan berdoa,”Sungguh ajaib mukjizat-Mu Allah, akhirnya Kristus kembali menjadi inventaris gereja!”Lalu si Pendeta, si Pengusaha, dan si Politikus raib dari panggung. Langsung lampu panggung redup. Si Kusta, si Wanita Penghibur, dan si pemulung terhempas lunglai lemas. Sedu-sedan isak tangis mereka.(lih.Andar Ismail,Selamat Sehati,JKRT:BPK GM)

Kedua sendiwara ini merupakan refleksi fungsi dan peran pendeta di dalam HKBP untuk menjadi berkat bagi dunia.Hal ini juga diungkapkan ompu I Ephorus HKBP dalam Sinode HKBP Distrik XXVIII DKI Jakarta ini, lebih jauh, Simarmata mengungkapkan bahwa istilah Go To The Next Level memiliki dimensi berjerih juang. Setiap orang harus berjerih juang untuk meningkatkan kompetensi/kemampuan diri dan karena itu harus memainkan peran sebagai pembaharu, pendamai dan pemberdaya di tengah-tengah kehidupan ini. Untuk mewujudkan itu, Ephorus secara khusus mengajak para pelayan penuh waktu tentang perannya sebagai lokomotif untuk menggerakkan seluruh potensi yang ada sehingga HKBP menjadi berkat bagi dunia. Karena itu, setiap pelayan harus meneladani prinsip hidup Yesus yang berkorban bagi orang lain, menjadi penyembuh yang terluka.

HKBP Taman Mini. 1 Agustus 2013

Sumber : http://hkbp.or.id/renungan-tema-rapat-pendeta-hkbp-2013/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *