Rapat Pendeta HKBP Distrik XIX Bekasi

Lembang, Jawa Barat.

Rapat Pendeta HKBP Distrik Bekasi yang dilaksanakan di Hotel Yehezkiel, Lembang – sangat serius menggumuli kehadiran HKBP menjadi berkat di tengah konteks bangsa yang majemuk, khususnya konteks kota Bekasi yang kurang toleran dalam kehidupan beragama. Masih segar dalam ingatan kita tentang perobohan gedung gereja HKBP Setu yang dilakukan pemerintah daerah dengan alasan tidak memiliki ijin dan penolakan-penolakan pembangunan gedung gereja oleh kelompok masyarakat tertentu.

Ketua Rapat Pendeta HKBP, Pdt. Willem T.P. Simarmata, MA menyampaikan sesi dengan didampingi
Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, Pdt. Manarias Sinaga, M.Th., dan Moderator Pdt. J.A.U. Doloksaribu, S.Th., M.Min.

Di tengah konteks tersebut, Ketua Rapat Pendeta (KRP) HKBP sekaligus Ephorus HKBP, Pdt. Willem T.P. Simarmata, MA mengajak seluruh pendeta HKBP di distrik Bekasi untuk serius memikirkan agar kehadiran HKBP memiliki manfaat positif bagi masyarakat. “Bila kita berbicara HKBP menjadi berkat, maka hal utama yang kita pikirkan adalah gereja bukan untuk kita, tetapi untuk bangsa, bumi dan dunia”, demikian ungkapan Ephorus.

Para Pendeta HKBP yang melayani di Distrik XIX Bekasi mengikuti sesi ini dengan serius.

Salah satu pendeta yang turut memberikan kontribusi pemikiran kritis pada Rapat Pendeta ini adalah Pdt. Palti Panjaitan. Berangkat dari pengalamannya, dia mengajak seluruh pendeta untuk memikirkan bagaimana peranan HKBP dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Bila tidak demikian, bukan mustahil bila suatu waktu orang-orang Kristen menjadi pengungsi di negeri ini”, tegasnya. Karenanya, dia mengajak para pendeta untuk tidak sibuk dengan diri sendiri, tetapi melihat jauh ke depan tentang masa depan bangsa dan masa depan gereja.

Pendeta Palti Panjaitan menyampaikan pandangannya tentang kehadiran HKBP dalam konteks NKRI.

Menurut KRP, kesadaran akan kemajemukan dan sikap menghargai orang lain perlu ditumbuhkan. Berbagai hal telah dilakukan HKBP untuk memperkokoh kerukunan, salah satunya adalah kegiatan Kemah Pemuda Kebangsaan yang akan dilakukan di dua tempat, yaitu: Tapanuli dan Jawa Barat. Tidak hanya itu, KRP juga mengajak pendeta untuk peka terhadap konteks kemiskinan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Karenanya, pelayan HKBP perlu mengembangkan pelayanannya kreatif yang dapat meningkatkan kehidupan ekonomi masyarakat. Artinya, HKBP hadir untuk memberdayakan, bukan hanya warga gereja tetapi juga memberdayakan warga masyarakat. Bukan tidak mungkin kesenjangan sosial-ekonomi menjadi salah satu alasan terhadap berbagai aksi kekerasan yang dialami gereja selama ini.

Seluruh pendeta menyanyikan lagu “Gabe Pasupasu tu portibion” yang
dipimpin oleh Pdt. J.A.U. Doloksaribu, S.Th., M.Min.

Seluruh Pendeta berfoto bersama dengan Ketua Rapat Pendeta HKBP

Praeses HKBP Distrik XIX Bekasi, Pdt. Manarias Sinaga, M.Th. mengungkapkan bahwa kegiatan Rapat Pendeta ini dilaksanakan selama dua hari dan dilanjutkan dengan Rapat Sinode HKBP Distrik Bekasi. Sebelum dan sesudah sesi KRP, semua pendeta menyanyikan lagu yang berjudul “Gabe Pasupasu tu Portibion”, ciptaan Pdt. J.A.U. Doloksaribu, S.Th., M.Min.

 (Pdt. Mangasa Lumbantobing)

Sumber : http://hkbp.or.id/rapat-pendeta-hkbp-distrik-xix-bekasi/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *