Metode Persahabatan sebagai Salah Satu Metode Pekabaran Injil HKBP

Parapat, 20 November 2013

Pekabaran Injil (zending) merupakan jantung dari Kekristenan karena setiap orang percaya dipanggil untuk memberitakan Kabar Baik kepada semua bangsa agar setiap lidah boleh mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat. Bahkan, Kabar Baik itu diberitakan kepada seluruh mahkluk. Itu berarti, Kabar baik tidak hanya diberitakan kepada manusia saja, tetapi seluruh ciptaan. Namun, metode Pekabaran Injil selalu berubah seiring dengan perkembangan pemahaman teologi. “Belakangan ini, metode yang berkembang adalah Missiology in Context, artinya: seorang penginjil perlu mempelajari konteks dari orang atau suku bangsa yang hendak disampaikan Kabar Baik itu”, demikian Ephorus.

Menurut Ephorus, kegagalan lembaga zending dalam memberitakan Kabar Baik bagi suku Batak pernah terjadi, yaitu: masuknya kekristenan Menonit di Barus, tapi tidak berkembang; demikian juga kegagalan Zending Boston yang mengirim Munson dan Lyman pada 1834 yang berujung pada kematian dua misionaris tersebut. Namun, berbeda dengan I.L. Nommensen. Sebelum Nommensen datang ke Tanah Batak, dia telah mempelajari kebiasaan-kebiasaan, budaya, bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Batak. Hasilnya, meski lambat, tetapi pada akhirnya dia diterima oleh masyarakat dan raja-raja Batak.  Penerimaan terhadap Injil telah membawa masyarakat Batak mengalami perkembangan yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa Injil menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat Batak pada masa itu karena Injil diberitakan dengan mempertimbangkan konteks masyarakat Batak.

Persoalannya, metode Pekabaran Injil yang seperti apa yang hendaknya dilakukan HKBP? Pdt. Willem T.P. Simarmata, MA memberikan sebuah model perjumpaan antara Yesus dengan dua orang murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35). Berdasarkan perikop tersebut, model Pekabaran Injil yang relevan adalah model persahabatan. Melalui model ini, misionaris dan orang yang hendak menerima Kabar Baik itu berjalan bersama, merasakan dan berbagi pengalaman teologis. Itu berarti, misionaris dan orang yang akan menerima Kabar Baik berada pada posisi yang setara. Dan melalui hal ini, Pekabaran Injil menjadi Kontekstual serta menjawab persoalan. Menurut Simarmata, model ini menuntut kesediaan kita mencermati, membaca tanda-tanda konteks, dan melakukan analisis sosial terhadap mereka yang hendak dilayani. “Suara-suara” dari luar gereja, suara-suara yang terpinggirkan dan dialog Oikumenis bisa membantu kita untuk mempertajam analisa konteks.

Lebih lanjut, Ephorus mengungkapkan bahwa HKBP sebagai gereja buah dari Pekabaran Injil juga mengemban panggilan pengutusan untuk memberitakan Kabar Baik. Karena itu, kita harus taat pada pengutusan tersebut. Melalui ketaatan tersebut, maka HKBP menjadi Berkat bagi Dunia, melalui upaya Pembaharuan. Perdamaian dan Pemberdayaan. Bila kehadiran HKBP menjadi Berkat bagi Dunia, maka sesungguhnya HKBP telah bermisi secara kontekstual dan menjawab berbagai persoalan-persoalan yang dihadapi dunia ini.

(Pdt. Mangasa Lumbantobing/CPdt. Jona Togatorop)

Sumber : http://hkbp.or.id/metode-persahabatan-sebagai-salah-satu-metode-pekabaran-injil-hkbp/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *