Kunjungan Pastoral di Sigumpar, Ephorus HKBP: Rendahkanlah Hati

Sigumpar Tobasa, 2 Februari 2014

Pada Minggu IV sesudah Ephipanias, Ompui Ephorus HKBP Pdt. Willem T.P. Simarmata, MA didampingi Ompung Boru br. Purba melakukan Kunjungan Pastoral dalam Ibadah Minggu di Gereja HKBP Dr. I.L Nommensen Sigumpar Ressort Nommensen Sigumpar Distrik IV Toba. Ibadah dipimpin oleh Ompui Ephorus HKBP sebagai pengkhotbah dan Praeses HKBP Distrik IV Toba Pdt. Robert Silaban, STh sebagai Liturgis. Terlihat antusias jemaat dalam mengikuti ibadah yang memenuhi gedung Gereja.

Jemaat saat mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Ephorus HKBP

Jemaat saat mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Ephorus HKBP

Ephorus HKBP dalam nats khotbah dari Mika 6:1-8 mengatakan bahwa Allah tidak diam atas apa yang terjadi dan yang akan terjadi. Allah melihat dan mengetahuinya. Tuhan mengetahui bahwa akan terjadi Bencana Alam, bahkan Dia tidak tutup mata atas apa yang terjadi. Oleh sebab itu, dari nats disampaikan bahwa Allah melalui nabiNya menentang kejahatan dan dengan tegas menyerukan supaya tokoh dan pemegang peranan penting di Kerajaan Israel untuk tidak melanjutkan tindak kejahatan yang diperbuat. Manusia telah menguji murka Allah. Bahkan, manusia memberikan persembahannya seakan-akan membenarkan tindak kejahatan yang telah diperbuat. Sepertinya, manusia ingin mencoba Allah supaya mengizinkan kejahatan.

Ompui Ephorus HKBP saat menyampaikan khotbah

Ompui Ephorus HKBP saat menyampaikan khotbah

Namun disaat terjadi penderitaan, tentu akan terbersit pertanyaan, dimanakah Tuhan? Kenapa harus terjadi penderitaan? Tetapi disaat pertanyaan itu terbersit, maka pertanyaan balik adalah apa yang telah diperbuat manusia. Pada saat manusia bertanya mengapa, maka Allah juga bertanya bagaimana tindakan manusia itu sebagai orang percaya, sudahkah manusia merendahkan diri dan berhati damai. Adalah hal yang sulit untuk menyatukan hati manusia untuk berdamai dan saling meredahkan diri. Terlebih jika sudah dikaitkan dengan pesan nenek moyang, karena hal yang disayangkan adalah ketika umat manusia lebih mendengarkan pepatah nenek moyang walaupun pepatah tersebut tidak mencerminkan kerendahan hati dan perdamaian. Padahal, tidak ada yang tidak diberkati jika memang manusia merendahkan diri dan berdamai satu dengan yang lainnya.

DSC_0947

Secara khusus, di Sigumpar inilah tempat tinggal bersemayam Dr. I.L. Nommensen. Sigumpar yang dipilih Nommensen pada waktu lampau menjadi sentral pengabaran Injil. Disinilah Nommensen menyuarakan untuk melawan kejahatan, berperangai baik dan saling menolong dalam kerendahan hati. Sebagai jemaat Nommensen Sigumpar, menjadi kewajiban untuk menjadi teladan dalam hal berprilaku dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Kerendahan hati dan damai tertanam didalam setiap diri orang yang percaya. Di dalam ilmu komunikasi pun diajarkan jika saat bertemu dengan seseorang, maka rendahkanlah dirimu, jangan menunjukkan kebolehanmu seakan-akan menjadi lebih pintar, justru harus ditekankan dan ditunjukkan bahwa orang lain lebih tinggi dari pada kita sendiri. Itulah tanda kerendahan hati. Dengan demikian, maka dunia ini akan semakin mudah dan terbantu dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan hidup yang dihadapi.

Ompui Ephorus usai ibadah memberikan bimbingan tentang acara yang diadakan pada 6 Feb 2014

Ompui Ephorus usai ibadah memberikan bimbingan tentang acara yang diadakan pada 6 Feb 2014

Usai Ibadah, Ompui Ephorus juga menyampaikan bahwa pada Kamis, 6 Februari 2014 yang akan datang, HKBP akan kedatangan tamu Pimpinan UEM dan akan berkunjung ke Gereja HKBP Nommensen Sigumpar, pada hari tersebut berketepatan sebagai hari ulang tahun Dr. I.L. Nommensen. Direncakan akan diadakan prosesi pawai, ibadah bersama, penyajian makanan lokal serta pemutaran film Dr. I.L. Nommensen.

DSC_0999

Pada kesempatan ini juga, Ompui Ephorus HKBP bersama dengan Praeses Distrik IV Toba melakukan koordinasi dengan Panitia yang dipercayakan dalam menyelenggarakan acara tersebut. Ephorus menjelaskan bahwa ini adalah sebuah momentum yang sangat berharga. Orang yang besar adalah orang yang menghargai pendahulunya. Nommensen sebagai missionaries yang meretas bangsa batak keluar dari kegelapan, sehingga kita bisa seperti sekarang ini.  (JMT)

Persiapan di Konsistori sebelum Ibadah Minggu

Persiapan di Konsistori sebelum Ibadah Minggu

Sumber : http://hkbp.or.id/kunjungan-pastoral-di-sigumpar-ephorus-hkbp-rendahkanlah-hati/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *