EPHORUS HKBP MERESMIKAN SEMINAR THE PARTICIPANTS OF INTERNATIONAL ECUMENICAL CONSULTATION ON LIVING TOGETHER WITH OTHER FAITHS

Pematangsiantar, Pada 18 Juni 2013 telah diselenggarakan kegiatan seminar The Participants of International Ecumenical Consultation on Living Together with Other Faiths di STT HKBP. Seminar yang dimulai pada pukul 09.00 WIB ini diawali dengan penandatanganan sertifikat oleh Ompui Ephorus HKBP Pdt. W.T.P. Simarmata, M.A. dan Praeses (Ephorus) Gereja Protestan Wesfalia Anette Kurschus yang disaksikan oleh Rektor STT HKBP Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing di ruang Rektor STT HKBP, yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh peserta seminar. Kegiatan seminar ini dibuka dengan tarian asal India oleh Mahasiswa/i STT HKBP dan kata sambutan oleh Ompui Ephorus dan Praeses (Ephorus) Evangelische Kirche von Westfalia, Bielefeld, Germany.

Ada pun para pembicara seminar ini enam orang, yaitu seorang narasumber dari sudut pandang Kristiani Pdt. Dr. A.A. Yewangoe (Ketua Umum PGI), seorang narasumber dari sudut pandang Islam Zainul Fuad, Ph.D dan empat orang narasumber dari Evangelische Kirche von Westfalia, Bielefeld, Germany – yang membagikan pengalaman komunitas mereka di Jerman dalam hubungan bermasyarakat antara pemeluk agama satu dengan pemeluk agama lainnya, juga dipimpin oleh dua orang moderator yaitu Pdt. Benny Sinaga, M.Th dan Pdt. Wilda Simanjuntak, M Div.

Seminar yang mengusung nilai-nilai toleransi keberagamaan dan pengalaman living together with the others ini membuka pembicaraan awal pada wacana tentang populasi penduduk berdasarkan identitas keagamaannya: Indonesia memiliki jumlah penduduk yang paling banyak ada pada agama Islam (sekitar 90%) yang hidup berdampingan dengan lima agama lainnya. Jerman memiliki jumlah penduduk yang paling banyak ada pada agama Kristen yang sudah mengakar berabad-abad lalu yang hidup berdampingan dengan agama lainnya, penduduk Muslim baru masuk pada beberapa dekade belakangan ini. Ini merupakan tantangan dan sekaligus ajakan untuk hidup bersama.

Arah pembicaraan seminar lebih mengarah kepada keseriusan bangsa Indonesia yang sudah dimulai sejak lahirnya Negara Indonesia Merdeka. Pancasila sebagai common ground bagi Indonesia yang telah digali oleh para pendiri negara. A.A. Yewangoe menekankan bahwa keseriusan pendiri negara, Ir. Soekarno terlihat dari pengerucutan lima sila menjadi tri sila dan eka sila, yaitu GOTONG ROYONG. Istilah ini menempatkan semua penduduk Indonesia pada posisi yang sama-sama memiliki andil untuk membawa negara kepada tingkat toleransi yang tinggi. Namun, sayangnya pada akhir-akhir ini ketegasan pemerintah menjalankan Pancasila semakin melemah. Kurangnya ketegasan pemerintah ini dicontohkan pada permasalahan GKI Yasmin. Selama ketegasan pemerintah tidak ada, maka mustahil Pancasila masih menjadi dasar negara Indonesia. Hal ini juga disikapi oleh Zainul Fuad bahwa harus disadari Indonesia dibangun atas dasar kemajemukan suku, ras, agama, dan antar golongan yang merupakan anugerah dari Tuhan. Mengingkari kemajemukan berarti mengingkari anugerah Tuhan. Zainul Fuad sebagai seorang muslim sangat menerapkan syariah di dalam kehidupannya bermasyarakat, tetapi sebagai warga negara Indonesia ia tidaklah setuju jikalau syariah dijadikan dasar negara Indonesia. Bangsa Indonesia telah memiliki pancasila dasar hidup bersama (di dalam kemajemukan).

Diskusi seminar ini ditutup oleh Ompui Ephorus, dengan kalimat akhir: “tanpa Pancasila, kita bukanlah negara Indonesia lagi”. Sontak kalimat akhir tersebut mendapat tepuk tangan yang riuh. Kemudian kegiatan seminar ini ditutup dengan pemberian cinderamata dan ulos kepada para tamu undangan khusus oleh Ompui, Kadep Koinonia, Kadep Diakonia, dan beberapa pendeta lainnya. (dm/bin2)

Sumber : http://hkbp.or.id/ephorus-hkbp-meresmikan-seminar-the-participants-of-international-ecumenical-consultation-on-living-together-with-other-faiths/